Translate

Sunday, June 19, 2011

Perlukah Anak Di Imunisasi?

Imunisasi
Imunisasi Bayi dan Dampaknya



Ibu Hj. Ummu Salamah telah menerbitkan satu buku dengan judul, Imunisasi Dampak Konspirasi dan Solusi Sehat ala Rasulullah SAW.
Buku ini disusun dalam rangka membangun kesadaran masyarakat akan pentingnya informasi mengenai dampak imunisasi serta konspirasi apa saja yang terjadi.
Buku ini sangat penting bagi anda, terutama bagi yang mau menikah, bagi yang mau punya anak, bagi yang mau berangkat haji, dan semua orang wajib mengetahui apa saja pengaruh imunisasi bagi tubuh manusia, yang jelas banyak ruginya daripada untungnya.
Mari kita mulai dari diri kita, keluarga kita, orang-orang yang kita cintai disekeliling kita agar anak kita tidak mudah untuk di imunisasi begitu saja.
-------------------------------------------------------------------------
Vaksin penyebab autisme,polio?????
(dari buku “Yang orang tua harus tahu tentang vaksinasi pada anak” karangan Stephanie Cave & Deborah Mithchell, terbitan Gramedia Pustaka Utama thn. 2003) Hasil penelitian yang dituangkan dalam buku ini cukup mengerikan, vaksin yang kita berikan demi kesehatan sang anak menjadi bumerang yang dapat memberi efek negatif yang tidak diinginkan. Mudah-mudahan informasi berikut berguna terutama bagi generasi muda kita.
Ada beberapa zat kimia yang ditambahkan kedalam vaksin (vaksin sendiri adalah bakteri/virus dari penyakit yang ingin di imunisasikan) antara lain:
  • Aluminium (dalam vaksin DPT, DaPT dan Hepatitis B)
  • Benzetonium klorida - bahan pengawet (dalam vaksin anthrax)
  • Etilen glikol (dalam vaksin DaPT, polio, Hib, hepatitis B)
  • Formaldehida - cairan untuk menonaktifkan kuman, bahan penyebab kanker
  • Gelatin - pemicu alergi (dalam vaksin cacar air dan MMR)
  • Glutamat (dalam vaksin varicella)
  • Neomisin - antibiotik yang dapat menyebabkan reaksi alergi(dalam vaksin MMR dan polio)
  • Fenol (dalam vaksin tifoid) - Streptomisin - antibiotik penyebab alergi (dalam vaksin polio)
  • Timerosal - bahan pengawet yang mengandung mercury
Selain itu bakteri mati yang ada dalam vaksin itu sendiri bisa melepaskan racun ke dalam aliran darah. Jika racun ini mencapai otak, bisa terjadi masalah persarafan, termasuk autisme, kesulitan memusatkan perhatian dan masalah perilaku. Sedangkan untuk virus hidup seperti dalam vaksin polio, MMR dan cacar air, ternyata bisa menyebabkan penyakit yang seharusnya dicegahnya.
Untuk orang-orang yang memiliki riwayat auto-imun seperti rematoid arthritis, diabetes, asma dan multiple sclerosis, vaksin yang disuntikan akan menyebabkan sistem imun tubuh mereka menyerang lebih banyak dari yang seharusnya. Terutama untuk vaksin campak, tetanus dan flu. Efek sampingan suatu vaksin dapat terjadi segera setelah anak menerima suntikan, tapi juga baru terlihat setelah beberapa jam, beberapa hari atau bahkan beberapa bulan.
Berikut ini bahaya mercury yang terdapat dalam vaksin yang diberikan kepada anak-anak:
  1. Kadar mercury yang tinggi dapat menyebabkan matinya sel-sel otak, sedangkan kadar yang rendah mengakibatkan efek yang lambat yang mempengaruhi sistem imun di tingkat sel, seperti ketidakmampuan untuk mengusir flu, bronchitis, infersi jamur atau bahkan kanker.
  2. Bila vaksin diberikan kepada bayi yang belum bisa membuang mercury dengan benar, mercury akan memasuki otak dan melekat pada serebelum (otak kecil) yang mempengaruhi ketrampilan motorik termasuk penglihatan dan keseimbangan, pada hipokampus yang menyerang saraf, dan pada amygdala yang mempengaruhi fungsi emosional dan mental, termasuk sikap pemalu dan halusinasi ( gejala ini mirip dengan autisme).
  3. Pada bayi yang sedang mengalami perkembangan otak yang cepat, mercury bisa merusak sel otak secara menetap. Untuk mendeteksi kadar mercury dan logam beracun lainnya, dapat dilakukan dengan memeriksa contoh darah dan rambut. Untuk menghilangkannya, dilakukan terapi dengan pemberian DMSA (asam 2,3 dimerkaptosuksinik), dimana mercury dikeluarkan bersama urine. Pada saat detoksifikasi ini, anak dipantau fungsi ginjal dan hatinya, dan ditambahkan gizi (vit. B,A, mineral dan asam amino) ke dalam diet anak.
Gangguan autisme melibatkan otak, sistem imun dan saluran pencernaan. Berarti selain gangguan psikiatrik, hiperaktif, disleksia, masalah bicara dan bahasa, ketidak normalan sensorik, kesulitan kognisi dan perilaku yang tidak biasa, penderita autis juga memiliki masalah sistem imun yang berakibat alergi, asma dan infeksi, dan dalam saluran usus mereka ditemukan kelebihan virus, jamur dan organisme penyebab penyakit lainnya - yang menyebabkan masalah diare dan masalah penyerapan bahan gizi.
Vaksin Hepatitis B biasanya diberika segera setelah bayi lahir, padahal vaksin ini mengandung 12.5 mikogram mercury yang lebih dari 25 kali batas aman yaitu 0.1 mikogram per kg berat tubuh per hari, Lagipula vaksin ini dilanjutkan dengan dua dosis tambahan . Selain hepatitis B, bayi juga mendapat 4 dosis vaksin HIB dan 4 dosis vaksin DPT yang semuanya mengandung mercury, padahal fungsi empedu yang mengeluarkan racun dari tubuh belum berkembang pada bayi dibawah usia 4 sampai 6 bulan.
Vaksin MMR selain mengandung mercury juga mengandung virus hidup yang mungkin sekali terbawa ke saluran pencernaan dan menggandakan diri dan menyebabkan infeksi campak yang menetap. Infeksi ini menyebabkan radang dinding saluran usus dan membuat lubang-lubang kecil disitu yang menyebabkan bahan yang berbahaya dalam usus masuk kedalam aliran darah. Bahan yang berbahaya tsb adalah kasomorfin dan gluteomorfin, yang bila terbawa aliran darah ke otak, menyebabkan perilaku yang tidak normal. Dalam vaksin DPT, sel bakteri pertusis mempengaruhi anak-anak yang satu atau kedua orang tuanya memiliki cacat protein G-alfa yang diwariskan secara genetika (rabun senja, penyimpangan kelenjar paratinoid, tiroid dan pituiter), menyebabkan autisme dan penurunan penglihatan, persepsi sensorik, pemrosesan bahasa dan pemusatan perhatian.
Anak -anak ini dapat diberikan terapi vitamin A dan Urokholin. Beberapa penelitian sedang dilakukan untuk membuktikan bahwa vaksin gondong dalam MMR, vaksin Hib, vaksin Hepatitis B dan vaksin pertusis menyebabkan diabetes tipe 1 (IDDM) yang tergantung pada insulin. Penelitian lain juga sedang berlangsung untuk mengungkap peran vaksin terhadap asma dan alergi, rematoid arthritis, kelumpuhan syaraf (polio), sindroma kematian bayi mendadak (SIDS).
Dengan efek samping yang terjadi, muncul pro - kontra penggunaan vaksin, bagaimanapun kita memerlukan vaksin untuk melindungi diri dari beberapa penyakit. Beberapa solusinya antara lain: - Berikan ASI kepada bayi paing sedikit 6 bulan, supaya bayi menerima imunitas pasif dari ibunya. - Gunakan vaksin yang bebas timerosal (mercury), tunda vaksin hepatitis B hingga usia anak sekolah, kecuali bila anak berada dalam resiko tinggi.
Berikan suntikan kedua sebulan sesudah yang pertama dan suntikan ketiga paling sedikit 4 bulan setelah suntukan pertama. - Selama hamil, hindari vaksin yang mengandung mercury dan perawatan gigi yang menggunakan mercury /amalgam.
Hindari pula makanan laut selama hamil dan menyusui, minumlah air yang bebas mercury. - Ibu yang negatif HbsAg nya, bisa menunda vaksin hepatitis B untuk bayinya dari saat lahir sampai usia 6 bulan.
Bayi premature dengan ibu yang HbsAg nya negatif, bisa menunda vaksin hepatitis B sampai bayi paling sedikit mencapai 2.5 kg dan mencapai usia kandungan lengkapnya. - Bayi dengan ibu yang HbsAg nya positif, harus menerima vaksin hepatitis B pada saat lahir. - Hib dapat dimulai pada usia 4 bulan, besama dengan vaksin polio yang disuntikan (IPV), seri kedua pada usia 6 bulan, seri ketiga Hib pada usia 8 bulan, seri keempat Hib dan IPV pada usia 17 bulan dan suntikan ulangan IPV pada usia 4 atau 5 tahun.
DaPT diberikan pada usia 5 bulan, kemudian usia 7, 9 bulan dan 18 bulan, ulangannya dapat diberikan pada usia 4 atau 5 tahun. DaPT adalah vaksin DPT versi baru dimana sebagian besar racun dalam bakteri Bordetella pertusis dihilangkan.-
Vaksin cacar air tidak dianjurkan pada anak umur 1 tahun. Sebaiknya diberikan menjelang usia sekolah, sekitar umur 4-5 tahun, setelah sebelumnya dites apakah anak sudah imun terhadap virus cacar air.
Vaksin MMR sebaiknya diberikan secara terpisah dan bertahap: campak usia 15 bulan, rubella 12 bulan kemudian dan gondong 12 bulan setelah rubella. Suntikan ulangan dapat diberikan kira-kira 6 bulan sebelum sekolah, setelah sebelumnya memeriksa titer imunitas terhadap MMR.
Yang paling penting untuk diperhatikan adalah; Jangan biarkan anak menerima vaksin dalam keadaan sakit, yang ringan sekalipun. Jangan pula biarkan anak menerima vaksin untuk 6 atau lebih organisme dalam satu hari…
----------------------------------------------------------------------------
IMUNISASI
munisasi merupakan cara terbaik untuk melindungi anak dari berbagai macam penyakit. Anda mendengar hal ini dari dokter, media massa, brosur di klinik, atau teman-teman Anda. Tetapi, apakah Anda pernah berpikir ulang tentang tujuan imunisasi? Pernahkah anda meniliti lebih lanjut terhadap isu-isu dan cerita mengenai sisi lain imunisasi (yang tidak pernah diinformasikan oleh dokter)? Baiklah, mari kita ikuti lebih lanjut…
Serangkaian imunisasi yang terus digiatkan hingga saat ini oleh pihak-pihak terkait yang katanya demi menjaga kesehatan anak, patut dikritisi lagi baik dari segi kesehatan maupun syariat. Teori pemberian vaksin yang menyatakan bahwa “memasukkan bibit penyakit yang telah dilemahkan kepada manusia akan menghasilkan pelindung berupa anti bodi tertentu untuk menahan serangan penyakit yang lebih besar”. Benarkah?
Tiga Mitos Menyesatkan:
Vaksin begitu dipercaya sebagai pencegah penyakit. Hal ini tidak terlepas dari adanya 3 mitos yang sengaja disebarkan. Padahal, hal itu berlawanan dengan kenyataan.
1) Mitos: Effektif melindungi manusia dari penyakit.
Kenyataan: Banyak penelitian medis mencatat kegagalan vaksinasi. Campak, gabag, gondong, polio, terjadi juga di pemukiman penduduk yang telah diimunisasi. Sebagai contoh, pada tahun 1989, wabah campak terjadi di sekolah yang punya tingkat vaksinasi lebih besar dari 98%. WHO juga menemukan bahwa seseorang yang telah divaksin campak, punya kemungkinan 15 kali lebih besar untuk terserang penyakit tersebut daripada yang tidak divaksin.
2) Mitos: Imunisasi merupakan sebab utama penurunan jumlah penyakit.
Kebanyakan penurunan penyakit terjadi sebelum dikenalkan imunisasi secara masal. Salah satu buktinya, penyakit-penyakit infeksi yang mematikan di AS dan Inggris mengalami penurunan rata-rata sebesar 80%, itu terjadi sebelum ada vaksinasi. The British Association for the Advancement of Science menemukan bahwa penyakit anak-anak mengalami penurunan sebesar 90% antara 1850 dan 1940, dan hal itu terjadi jauh sebelum program imunisasi diwajibkan.
3) Mitos: Imunisasi benar-benar aman bagi anak-anak
Yang benar, imunisasi lebih besar bahayanya. Salah satu buktinya, pada tahun 1986, kongres AS membentuk The National Childhood Vaccine Injury Act, yang mengakui kenyataan bahwa vaksin dapat menyebabkan luka dan kematian.
Racun dan Najis? Tak Masuk Akal
Apa saja racun yang terkandung dalam vaksin? Beberapa racun dan bahan berbahaya yang biasa digunakan seperti Merkuri, Formaldehid, Aluminium, Fosfat, Sodium, Neomioin, Fenol, Aseton, dan sebagainya. Sedangkan yang dari hewan biasanya darah kuda dan babi, nanah dari cacar sapi, jaringan otak kelinci, jaringan ginjal guk guk, sel ginjal kera, embrio ayam, serum anak sapi, dan sebagainya. Sungguh, terdapat banyak persamaan antara praktik penyihir zaman dulu dengan pengobatan modern. Keduanya menggunakan organ tubuh manusia dan hewan, kotoran dan racun (informasi ini diambil dari British National Anti-Vaccination league)
Dr. William Hay menyatakan, “Tak masuk akal memikirkan bahwa Anda bisa menyuntikkan nanah ke dalam tubuh anak kecil dan dengan proses tertentu akan meningkatkan kesehatannya. Tubuh punya cara pertahanan tersendiri yang tergantung pada vitalitas saat itu. Jika dalam kondisi fit, tubuh akan mampu melawan semua infeksi, dan jika kondisinya sedang menurun, tidak akan mampu. Dan Anda tidak dapat mengubah kebugaran tubuh menjadi lebih baik dengan memasukkan racun apapun juga ke dalamnya.” ….. (Immunisation:The Reality behind the Myth)
Makhluk Mulia Vs Hewan
Allah telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Manusia merupakan khalifah di bumi, sehingga merupakan ashraful makhluqaat (makhluk termulia). Mengingat keunggulan fisik, kecerdasan, dan jiwa secara hakiki, manusia mengungguli semua ciptaan Allah yang ada. Manusia merupakan makhluk unik yang dilengkapi sistem kekebalan alami yang berpotensi melawan semua mikroba, virus, serta bakteri asing dan berbahaya.
Jika manusia menjalani hidupnya sesuai petunjuk syariat yang berupa perintah dan larangan, kesehatannya akan tetap terjaga dari serangan virus, bakteri, dan kuman penyakit lainnya. Sedangkan orang-orang kafir, mengangap adanya kekurangan dalam diri manusia sebagai ciptaan Allah, sehingga berusaha sekuat tenaga memperkuat sistemn pertahanan tubuh melalui imunisasai yang tercampur najis dan penuh dengan bahaya.
Manusia merupakan makhluk yang punya banyak kelebihan. Terdapat perbedaan yang mencolok antara manusia dengan hewan tingkat rendah. Apa yang dapat diterapkan padanya tidak cocok bagi hewan, demikian juga sebaliknya. Namun, orang-orang atheis menyamakan hewan dengan manusia, sebab mereka menganut teori evolusi manusia melalui kera yang sangat “menggelikan”. Oleh karena itu, mereka percaya bahwa apa yang dimiliki hewan dapat secara aman dimasukkan ke dalam tubuh manusia. Jadi, sel-sel hewan, virus, bakteri, darah, dan nanah disuntikkan ke dalam tubuh manusia. Logika Syaitan ini adalah menjijikkan menurut Islam.
Imunisasi digembar-gemborkan sebagai suatu bentuk keajaiban pencegahan penyakit, padahal faktanya cara itu tidak lebih hanya sebagai proyek penghasil uang para dokter dan perusahaan farmasi. Dalam kenyataannya, imunisasi lebih banyak menyebabkan bahaya daripada kesehatan. Bahkan, mengacaukan proses-proses alami yang ada dalam ciptaan-Nya. Nah, dengan paparan singkat ini, orang tua mana yang merasa tidak takut untuk memberikan imunisasi pada anaknya.

2 comments:

  1. terima kasih atas informasinya,,
    sungguh sangat membantu saya sebagai orang tua dari tiga putri,,

    ReplyDelete
  2. anak yang tidak diimunusasi akan jauh lebih sehat.saya sudah membuktikan.bila sakit tidak pernah ke dokter cukup menggunakan obat herbal alami dan madu.

    ReplyDelete

Silahkan anda komentar tetapi tetep menjaga kesopanan dan tidak melakukan spam,

 
© Copyright 2010. yourblogname.com . All rights reserved | yourblogname.com is proudly powered by Blogger.com | Template by o-om.com - zoomtemplate.com